Blog Competition

Ramadhan Kala Itu di Jakarta

Setiap kali bulan Ramadhan tiba, selalu ada kesejukan yang tiba-tiba muncul. Lagi-lagi, bulan Ramadhan kali ini masih tetap sejuk. Kala itu bulan Juli. Walau menurut hitung-hitungan kalender, kali ini tiga puluh hari berpuasa jatuh di saat musim kemarau, namun tetap saja kesejukan itu terasa nyatanya.

Bulan ini musim kemarau, tapi ada saja hari-hari saat hujan turun membawa kedamaian. Dengan pengamatan yang tak perlu terlalu jeli, manusia yang sadar tahu selalu ada malam hari dengan hujan di tengahnya, terutama di sepuluh malam terakhir. Hujan gerimis, atau hujan dengan suara yang entah mengapa membuat jiwa damai.

Ramadhan kali ini, seperti sebelum-sebelumnya, setiap umat muslim kembali diberikan kesempatan untuk menyapa Tuhannya lebih dekat lagi. Satu hal yang menarik tentang puasa, ibadah ini sedikit berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Orang bisa lihat jika seseorang sedang menjalankan ibadah shalat, berzakat, ataupun naik haji. Namun puasa? Puasa adalah rahasia antara makhluk dan Tuhannya. Seseorang bisa saja mengaku sedang berpuasa di depan manusia lainnya. Yang tahu kebenarannya? Hanya Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersimpan di balik penglihatan manusia.

Memaknai Ramadhan adalah memaknai kecintaan pada Tuhan. Ketika ada rasa sedikit saja ingin mendekati Tuhan, Dia janjikan akan lebih dulu mendekat pada manusia melalui hidayah-hidayah yang diberikan-Nya.

Ada yang menarik pada Ramadhan kala itu di Jakarta. Umurku sudah hampir 3 windu. Mendatangi reuni-reuni kecil dengan teman saat sekolah dahulu, rasanya ada banyak hal yang bisa diserapi dalam kehidupan.

Untitled design (2).png

(Sumber gambar : http://siloka.com/keistimewaan-masjid-istiqlal-yang-tak-dipunyai-masjid-lain-2-tamat.html)

Berkah Ramadhan dari Reuni Sekolah Dasar

Ada temanku yang sudah menikah, membawa serta dua anaknya yang masih balita. Ada temanku yang dulu sewaktu memakai seragam merah putih bercita-cita menjadi guru, dan hingga kini impiannya itu masih ia pegang erat, jadilah ia seorang pengajar taman kanak-kanak. Setengah dari wanita yang datang sudah berhijab. Setengah lainnya masih dalam perjalanan menuju tahapan itu.

Memang benar bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Di dalamnya, tali-tali silaturahim kembali tersambung. Pembicaraan mengenai kenangan-kenangan sewaktu di bangku sekolah kini jadi manis diingat. Temanku si wanita baik hati itu dulu punya musuh bebuyutan yang selalu menggodanya dan membuat ia kesal. Tapi diingat-ingat lagi, kini semuanya jadi lucu dan membuat rindu.

Temanku si wanita paling populer di sekolah itu juga sudah berubah. Kini ia jadi seorang pengajar bahasa asing. Dahulu, sebab kepopulerannya, ia kerap bertengkar dengan sesama teman wanita yang juga populer. Apa semua wanita populer yang menarik selalu punya musuh wanita populer lainnya? Entahlah. Tapi toh nyatanya si wanita populer ini sudah lama memaafkan temanku wanita populer lainnya. Mungkin begitulah kerja waktu. Detik-detik lambat waktu menghapuskan titik-titik dengki di hati seseorang dan mengubahnya jadi cerita yang lucu dibahas kembali.

Untitled design (3).png

(Sumber gambar : https://tirto.id/masjid-at-tin-untuk-ibu-tien-ckFq)

Berkah Ramadhan dari Reuni SMP

Ah, temanku saat SMP tak banyak-banyak. Hanya dua yang paling sering bertemu, karena kami dahulu pulang ke arah yang sama dan menaiki angkutan umum dengan trayek yang sama. Temanku yang satu kini belajar (mengejar sarjana) sambil mengajar (di sekolah dekat rumahnya). Di sela-selanya, dia juga kerap berdagang bersama keluarganya. Temanku yang satu lagi bekerja di perusahaan finance.

Temanku sang wanita karir finance bercerita tentang kelakuan teman-temannya di kantor. Dekat dengan sebuah mall, membuat seringkali ia diajak untuk ngabuburit mengelilingi mall di siang hari saat istirahat. Temanku ini baru sekitar 1 bulan bekerja di kantornya itu. Merasa sebagai ‘anak kemarin sore’ yang harus menghormati ajakan teman-teman sekantor, pergilah ia ikut ngabuburit siang hari.

Tapi betapa kagetnya ia saat menyadari ternyata sekelompok karyawan kantor tempatnya bekerja tersebut ternyata sekaligus makan siang di mall samping kantor. Temanku kebingungan harus bagaimana. Untungnya ia masih kuat menahan puasanya sambil dikelilingi teman-teman yang makan dengan nikmatnya.

Lebih lucu lagi ketika temanku cerita bahwa temannya temanku malah berucap : “Ini kita nggak papa kan ya puasa setengah hari aja, nggak dosa kan?” Bayangkan saja ekspresi temanku. Kehabisan kata-kata dia. Temanku yang malang itu curhat, sambil berujar “Ya mereka habis balik ke kantor langsung segar, gue yang lemes keliling-keliling mall sambil nahan emosi. Besok-besok mau diem di kantor aja”.

Urusan puasa ternyata memang urusan pribadi manusia dengan Tuhan. Bukan cuma anak-anak yang sering diam-diam meneguk air sambil mengumpat, ternyata tingkah orang dewasa juga tak jauh berbeda. Bagaimanapun, anak-anak saja bisa merasa bersalah ketika membatalkan puasanya. Apa orang dewasa sudah kehilangan rasa bersalah di hadapan Tuhan? Tapi toh, mungkin saja mereka tetap merasa mendapatkan berkah Ramadhan, karena bagaimanapun, Tuhan Maha Penyayang.

Ceritaku untuk Ramadhan kemarin seperti ini saja. Menyambung-nyambung tali silaturahim, menggali-gali makna dari tiap cerita yang menghiasi tali silaturahim. Berkah Ramadhan buatku adalah masih mempunyai teman-teman yang bisa berbagi makna, masih memiliki keluarga yang bisa berkumpul bersama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s