Blog Competition

Gambut Indonesia : Kita yang Punya, Kita yang Jaga

Zamrud khatulistiwa merupakan negeri tropis dengan sejuta kekayaan hayatinya. Walau begitu, nampaknya kekayaan alam ini masih belum disadari sepenuhnya, diabaikan, bahkan disia-siakan oleh penduduk Indonesia.

Tentu masih hangat di ingatan, sekitar tahun 2015, terjadi kebakaran hutan dan lahan di tanah Sumatera yang menyebabkan udara tercemar asap tebal. Negeri tetangga protes asapnya mencapai tanah mereka, ribuan orang mengalami gangguan pernapasan, anak-anak tidak bisa berangkat ke sekolah. Belum lagi emisi gas rumah kaca yang meningkat pesat dan kerugian finansial yang harus ditanggung, paling tidak mencapai 220 triliun rupiah.

Dampak Kebakaran Hutan di Indonesia.jpg

(Dampak Kebakaran Hutan di Indonesia)

Jejak-Jejak Gambut di Tanah Indonesia

Kebakaran hutan ini tentu berkaitan erat dengan kelestarian tanah gambut di Indonesia. Sebagai bayangan, gambar di bawah ini menunjukkan seberapa banyak lahan gambut yang masih lestari hingga saat ini. Bagian yang berwarna hijau merupakan lahan yang masih terdapat gambut di atasnya, diriset oleh Global Forest Watch pada tahun 2012.

GAMBUT1

Dapat terlihat di peta gambut Indonesia tersebut bahwa di pulau Jawa dan Sulawesi sudah tidak ada lagi lahan hijau yang menunjukkan tanah gambut. Sementara di tanah Sumatera, paling banyak gambut terdapat di provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di Pulau Kalimantan Sendiri, masih cukup banyak daerah hijau di sekitar Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, juga sedikit di Kalimantan Timur.

Walau begitu, jika dilihat-lihat sebetulnya jumlah tanah gambut yang optimal ini sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Gambar selanjutnya menunjukkan kehilangan tutupan pohon selama tahun 2001-2015, masih dari sumber riset yang sama. Cukup luas, bukan, area kehilangan tutupan pohon karena penebangan untuk berbagai kepentingan ini?

gambut2

(Kehilangan Tutupan Pohon Selama tahun 2001-2015)

Walaupun begitu, tidak berarti tak ada usaha manusia untuk kembali melestarikan gambut. Setelah terjadinya kehilangan tutupan pohon tersebut, tentu saja terdapat usaha restorasi gambut, dengan cara penambahan tutupan pohon. Dari gambar berikutnya, dapat terlihat cukup luas pula usaha untuk penambahan tutupan pohon demi kualitas tanah gambut yang lebih baik.

gambut3.JPG

(Penambahan Tutupan Pohon Gambut)

Apa Sebetulnya Gambut Itu?

Sudah bicara panjang lebar tentang gambut, namun sebetulnya apakah yang disebut dengan gambut ini? Untuk lebih mengenal tentang gambut, video dari pantaugambut.id berikut bisa cukup membantu.

Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa gambut (atau dalam bahasa Inggris disebut peat), merupakan material organik yang terdiri dari ranting dan daun pepohonan yang jatuh ke tanah dan akhirnya menumpuk menjadi lapisan gambut.

Bahan organik itu apa? Ciri utama dari bahan organik adalah mengandung sangat banyak atom karbon. Semakin lestari suatu hutan gambut, semakin banyak tumpukan karbon yang terbentuk dari bahan-bahan organik yang berjatuhan dari pohon, dan akhirnya membentuk semacam kubah gambut.

Di hutan gambut tersebut kelembapannya sangat tinggi. Apalagi sering terjadi hujan dan sinar matahari juga tidak bisa menembus dedaunan pohon yang lebat untuk menyentuh permukaan tanah gambut. Oleh karena itulah, tanah gambut tetap terjaga basah sepanjang tahun dan proses pembusukan bahan organik terhenti. Karbon tetap tersimpan di dalam tanah, dan mengikat air seperti spons yang mampu menyerap air.

Kita yang Punya, Kita yang Jaga

Lalu sepenting apakah menjaga lahan gambut agar tetap menutupi tanah-tanah di Indonesia? Tentunya, jika semakin banyak lahan gambut yang dipertahankan, akan semakin stabil pula iklim dunia. Apalagi Indonesia sendiri sebetulnya adalah rumah bagi lahan gambut tropis yang paling besar di dunia. Bisa dibilang, sebetulnya negeri ini merupakan harapan dunia untuk lahan gambut yang menyimpan paling tidak sepertiga dari cadangan karbon di dunia.

Saat ini, paling tidak terdapat lahan gambut seluas 14,9 juta hektar. Bayangkan luas pulau Jawa yang sedikit lebih besar untuk angka ini. Di dalam tanah gambut seluas 14,9 juta hektar ini, jumlah karbon pun cukup banyak, mencapai 22,5-43,5 gigaton karbon. Sebanyak apa jumlah karbon ini? Paling tidak sama dengan karbon yang dilepaskan oleh emisi mobil pribadi selama satu tahun.

Pemerintah sendiri sebetulnya juga tidak main-main untuk tegas mengatur masalah restorasi gambut ini, apalagi setelah kecolongan terjadinya kebakaran hutan pada tahun 2015 lalu. Misalnya saja, sudah ada Peraturan Menteri yang mengatur tentang Pedoman Teknis Restorasi Fungsi Ekosistem, tepatnya Peraturan Menteri no.16/2017, yang menjelaskan ciri-ciri lahan gambut yang mengalami kerusakan.

Copy of Memetakan gambut.jpg

Selain itu, terdapat pula Peraturan Presiden no.1/2016 yang mengatur tentang Pembentukan Badan Restorasi Gambut. Terbukti pemerintah pun mendukung proses restorasi gambut di Indonesia. Paling tidak, diharapkan terdapat lahan gambut dengan luas sekitar 2 juta hektar yang akan direstorasi. Jumlah efek gas rumah kaca yang akan berkurang pun besar nilainya, mencapai 7,8 gigaton, atau kira-kira sama dengan gas rumah kaca yang diemisikan negara Amerika Serikat dalam satu tahun.

Demi Lahan Gambut yang Lestari

Di Indonesia sendiri, pelestarian gambut dilakukan dengan cara 3R, yaitu rewetting (pembasahan gambut), revegetasi (penanaman ulang), dan revitalisasi sumber mata pencaharian. Sebelum dilakukan 3R tersebut, ada pross pemetaan gambut dan penentuan detail restorasi. Selengkapnya ditampilkan dalam gambar berikut.

Memetakan gambut.jpg

Gambut memang mesti dipandang sebagai aset penyimpan cadangan karbon dunia, yang harusnya memang tertahan di dalam lahan gambut, alih-alih terlepas ke udara karena pembakaran hutan gambut atau adanya drainase yang meluruhkan tanah gambut ke aliran air. Demi kestabilan jumlah gambut di Indonesia, demi iklim yang stabil, dan demi keseimbangan alam, mari sama-sama pantau gambut!

#PantauGambut

Sumber :

  1. Restorasi Gambut di Indonesia (via. pantaugambut.id), diakses 20/07/2017
  2. Ada Apa dengan Gambut (via pantaugambut.id), diakses 20/07/2017
  3. Mengenal Lahan Gambut Lebih Jauh (via pantaugambut.id), diakses 20/07/2017
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s