Resensi Buku

Review Buku Happy Little Soul – Ibuk @retnohening

Judul Buku: Happy Little Soul – Belajar memahami anak dengan penuh cinta
Nama Pengarang : Retno Hening Palupi (@retnohening)
Nama Penerbit : GagasMedia
Ketebalan Buku : XIV + 202 halaman
Tahun Terbit : 2017
Nomor Edisi: ISBN 978-979-780-886-0

Akhirnya aku pun ikut membeli buku yang sedang populer ini. Buku yang kini di tanganku ini merupakan cetakan ke-6 di tahun yang sama dia terbit, tahun 2017. Penasaran dengan isinya, karena nantinya toh aku sendiri akan jadi seorang ibu.

diraliya.wordpress.com (1)

Tentu saja ketertarikan membeli buku ini berawal dari media sosial. Aku mengikuti apa-apa saja tingkah Kirana (putri Ibuk Retno Hening) semenjak sekitar setahun yang lalu dari instagram Ibuk @retnohening. Lucu, menggemaskan, dan cerdas! Di usianya yang baru 2 tahun, Kirana seperti bisa berkomunikasi dengan orang dewasa, percaya diri untuk bercerita, menari, menyanyi, pokoknya bikin gemas orang yang melihatnya.

Membeli buku tentang kisah-kisah Ibuk mengasuh Kirana, buatku adalah sesuatu yang membahagiakan. Dari cerita-cerita yang dituliskan Ibuk, kita diajak untuk bersama-sama mencoba memahami anak dengan penuh cinta dan kesabaran.

diraliya.wordpress.com (2)

Ibuk Retno Hening sendiri sebetulnya memiliki background sebagai seorang guru TK, sehingga ketika lahir Kirana, ia tentunya sudah memiliki pengetahuan sekaligus pengalaman untuk mengasuh anak. Dibalik keceriaan yang dibagikan sehari-hari melalui foto atau video yang menunjukkan tingkah lugu nan cerdas Kirana, ternyata Ibuk pun pernah mengalami keguguran sebelum Kirana lahir. Saat hamil pun, Ibuk tidak ditemani oleh suaminya yang harus kerja di luar negeri.

Salah satu poin penting yang aku dapatkan di buku ini adalah tentang bersabar ketika memiliki seorang anak yang selalu penasaran akan berbagai hal. Apalagi ketika anak masih belum bisa bicara, tentunya ia kesulitan untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya. Seringkali orang tua yang tidak sabar akan menganggap anak hanya bersuara sesuka hatinya, padahal jika lebih jeli, anak sebetulnya mengeluarkan suara untuk meminta sesuatu pada orang tuanya, baik itu makan, minum, atau sekedar perhatian.

diraliya.wordpress.com

Disinilah aku rasa peran Ibuk Retno Hening yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang tua lainnya. Ibuk memiliki kesabaran di atas rata-rata untuk berusaha keras selalu menanggapi dan mencoba mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Kirana. Mengutip dari halaman 35, “Sebisa mungkin saya harus paham apa maunya, meskipun terkadang emosi dan stres juga karena dia tetap menangis dan saya belum juga menemukan penyebabnya.” Walau begitu, kebiasaan untuk mencoba memahami apa yang Kirana inginkan membuatnya berkembang cepat, terutama di bagian kecerdasan linguistik.

Di buku Happy Little Soul ini ibuk juga berbagi mengenai kegiatan apa saja yang dapat dilakukan untuk bermain bersama anak. Misalnya pada usia 0-6 bulan, Ibuk terbiasa untuk menyambut Kirana yang baru bangun dengan perkataan-perkataan lembut dan semangat baru. Atau permainan-permainan yang diajarkan Ibuk pada Kirana usia 6-12 bulan, seperti membacakan buku bergambar tanpa tulisan, bermain karu bergambar, dan sebagainya.

Masih banyak lagi pelajaran parenting yang bisa diambil dari buku ini, untuk lebih lengkapnya, silakan baca sendiri ya. Buat yang penasaran bagaimana cara Ibuk mengasuh Kirana, mengajarkannya untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, mengajarkannya bertanggung jawab untuk merapikan mainan yang sudah selesai dimainkan, semuanya lengkap ada di buku ini.

Terakhir, mengutip kata-kata dari Ibuk di buku ini :

Menjadi ibu adalah tentang jatuh cinta setiap hari kepada anak dan suami, tentang belajar bersabar tiada henti, dan tentang menguji keikhlasan yang dimiliki. Kita bisa menemukan kekuatan yang tak sangka dimiliki, dan melakukan segala sesuatu yang rasanya tak mungkin dikerjakan, tetapi akhirnya bisa dilalui

Advertisements
Resensi Buku

Review Filosofi Kopi – Dee (Baca di iJakarta)

Judul buku : Filosofi Kopi, Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (1995-2005)

Nama Pengarang : Dee Lestari

Nama Penerbit : Penerbit Bentang

Ketebalan Buku : 142 halaman

Tahun Terbit : 2012

Nomor Edisi : ISBN 978-602-8811-61-3

Sebetulnya sudah pernah membaca buku ini, namun ternyata membaca ulang memberikan kebahagiaan tersendiri, karena karya-karya Dee selalu bisa dinikmati berulang-ulang dengan pemaknaan yang berbeda. Kali ini saya akan review membaca kumpulan-kumpulan cerita pendek namun padat yang dikarang oleh Dee Lestari sepanjang perjalanan karir menulisnya selama satu dekade.

Review

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya membaca Filosofi Kopi di tablet, menggunakan aplikasi iJakarta. Aplikasi ini merupakan salah satu andalan saya untuk membaca buku-buku berkualitas. Seperti layaknya perpustakaan, kita bisa meminjam buku selama 3 hari untuk dibaca dalam bentuk e-book. Setelah 3 hari, buku akan otomatis kembali ke arsip iJakarta. Jika ada orang lain yang mengantri, biasanya buku akan langsung tidak tersedia (apalagi jika buku tersebut favorit banyak orang). Namun jika belum ada orang yang ingin membacanya lagi, kita bisa juga langsung meminjam kembali kalau belum selesai baca bukunya. Akhir-akhir ini pembaca juga lebih dimudahkan dengan adanya sistem donasi pada iJak, sehingga kita bisa mendonasikan pundi rupiah untuk membaca buku-buku yang diinginkan namun belum tersedia.

Lengkapnya pengalaman saya membaca di iJak bisa dilihat di sini.

Kembali ke review Filosofi Kopi.

Seperti namanya, memang cerita yang paling ditonjolkan di buku ini adalah Cerpen Filosofi Kopi. Berkisah mengenai jatuh bangun dua sahabat, Ben dan Jodi, yang membuka sebuah kedai kopi. Uniknya, Ben, sang barista, selalu berusaha mengajak para pelanggan di kedai kopi tersebut untuk mengobrol. Ben akan menjelaskan makna-mana kopi yang diminum para pelanggan. Seperti misalnya untuk kopi Cappucino, yang membutuhkan standar penampilan tinggi dan harus terlihat seindah mungkin, agar penikmatnya bisa merasakan nikmatnya dunia ketika menyesapnya.

Warung Filosofi Kopi milik Ben dan Jodi pun kian hari kian ramai oleh pengunjung. Kemudian, suatu hari datanglah seorang pelanggan yang menantang Ben untuk membuat kopi paling enak di dunia. Jika mampu, Ben akan diberikan hadiah uang tunai yang dapat digunakan untuk mengembangkan warung kopi tersebut. Berkutatlah Ben di dalam warung kopi tersebut untuk mengukur takaran paling pas untuk kopi yang paling enak di dunia.

Berhasilkah Ben membuat kopi paling enak yang pernah ada di dunia? Apa sebetulnya makna kopi yang paling enak di dunia? Cari tahu dengan membaca sendiri ya 🙂

Yang saya suka dari buku ini adalah betapa penggambaran-penggambaran yang diceritakan oleh Dee begitu padat berisi, namun tidak sulit dicerna. Alur cerita pun relatif cepat dan tidak bertele-tele. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam kata pengantarnya, “Ritme itu tak mendayu-dayu. Juga tidak ruwet, bahkan rapi.” Tak hanya cerpen, di beberapa sub-bagian buku ini, juga ditampilkan beberapa prosa seperti Salju Gurun (1998), Kunci Hati (1998), Jembatan Zaman (1998), Kuda Liar (1998), Cuaca (1998), Lilin Merah (1998), Spasi (1998), dan Cetak Biru (1998).

Berhubung saya sudah cukup sering membaca di iJak, saya akan review juga untuk bagian desain e-booknya. Yang saya suka dari e-book Filosopi Kopi ini adalah adanya bookmark yang memudahkan saya untuk menuju langsung ke halaman yang ingin saya baca. Berbeda dari buku-buku lainnya yang saya pinjam di iJak yang biasanya merupakan hasil scan dari buku aslinya, sepertinya ebook ini didesain khusus sehingga untuk berpindah ke halaman selanjutnya, saya harus men-swap (menggeser) halamannya, sehingga cukup memakan waktu lama. Akan lebih memudahkan pembaca jika desain ebooknya seperti kebanyakan buku lainnya, sehingga pembaca bisa langsung scroll ke bawah dengan mudah dan membaca dengan lancar.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati juga membaca versi e-book Filosofi Kopi ini di iJakarta. Semoga kedepannya semakin banyak inovasi yang dilakukan iJak untuk lebih memudahkan pembacanya~

#iJakFilkop